Ende adalah kota yang terletak di kabupaten Ende Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penduduk asli orang Ende biasa disebut orangLio- Ende. Mata Pencaharian masyarakat Lio-Ende sebagian besar adalah bertani dan nelayan. Demikian pula sebagai petani, mereka menanam bermacam-macam tanaman, dari tanaman yang pendek umurnya, hingga tanaman tahunan dan tanaman perdagangan. Sebelum menanam dan melakukan panen, mereka melakukan upacara seremonial adat.Upacara itu dipimpin oleh tokoh adat atau pemangku adat yang dalam bahasa setempat disebut Mosalaki bersama masyarakatnya yang dalam bahasa setempat disebut fai walu ana kalo.
Orang Lio Ende sebagian besar hidup dari bertani. Mereka menanam padi. Padi ladang paling banyak ditemukan. Padi ladang ditanam satu tahun sekali dan padi sawah dapat ditanam dua kali setahun. Sebelum ditanam selalu ada upacara. Upacara itu berhubungan dengan cerita ine Mbu atau Ine Pare.
Bagi orang Lio Ende, padi ladang sangat dihormati. Selain padi, di ladang juga di tanam jagung, sorgun (lolo, orho), jewawut (wete), ubi kayu, umbi-umbian, sayur-sayuran, kacang da sebagainya.
Selain adat istiadat yang masih hidup, kampung asli Lio Ende masih ada. Diantaranya masih terpelihara dengan baik. Kampung adat Wolotopo di kecamatan ndona, Kampung adat Wologai di kecamatan Detusoko, kampung adat Nuapuu di kecamatan………, kampung adat Tenda di kecamatan………………., kampung adat Wololele A di kecamatan Wolowaru juga masih terlihat aslinya. Stiap kampung asli Lio Ende ada hulunya. Dihulu itu ada pohon beringin yang sudah berusia tua. Rumah-rumah asli orang Lio Ende biasanya ada di buki-bukit selain di dataran rendah. Umumnya rumah-rumah itu melingkari bukit dan sedikit di dataran.
Kampung-kampung asli sebagai kampung adat lio-Ende, selalu terdapat rumah adat. Rumah adat adalah tempat untuk melaksanakan upacara-upacara adat bagi seisi kampung adat. Di rumah adat itulah Mosalaki dengan semua Fai Walu Ana kalo, aji ana, mengadakan rapat-rapat.
UBI Nuabosi atau dalam Bahasa Ende sering disebutkan, uwi ai
Nuabosi, terdapat di dataran Ndetundora-Nuabosi, Kecamatan Ende, Kabupaten
Ende, NTT. Berlokasi kurang lebih 14 kilometer ke arah Utara dari Kota Ende,
persis di belakang Gunung Wongge ditemukan Kampung Nuabosi. Dapat ditempuh
dengan sepeda motor atau taksi selama satu jam lebih. Ubi Nuabosi juga biasa
dijual di Pasar Mbongawani, tidak jauh dari pusat kota Ende.
Terdapat tiga jenis ubi Nuabosi. Pertama,
ubi putih atau “uwi ai tuka bhara”. Ciri-ciri ubi ini, batangnya tinggi
3 meter lebih. Ukuran batang besar dan berwarna putih, tangkai lebih besar dari
jenis ubi lain dan berwarna putih, daunya hijau keputih-putihan dan
berjari-jari. Kulit umbi berwarna cokelat keputihan. Sementara umbinya besar
dan pendek. Jenis uwi ai tuka bhara ini sama dengan ubi Bogor.
Penanaman jenis ubi ini dengan cara stek miring juga
tegak lurus. Jarak penanaman panjang 1 meter dan lebar 1 meter. Jarak ini
sesuai dengan ukuran umbi yang besar dan pendek. Dalam sepohon dapat
menghasilkan 5 sampai 7 umbi, karena umbinya besar maka jumlah yang dihasilkan
lebih sedikit.
Uwi ai
tuka bhara ini biasa
panen pada umur 10 bulan. Jika lebih dari umur itu, maka rasa ubinya sedikit
lebih pahit. Apalagi jika ditanam bersamaan dengan tanaman jenis lain.Rasa Uwi
ai tuka bhara, sama dengan ubi jenis lainnya, itupun jika panen tepat pada
waktunya. Umbinya berwarna putih dan tidak berserat dan rasanya sedikit pahit
jika diolah tidak sesuai.
Kedua, jenis ubi merah atau “uwi ai tuka mera” atau “uwi ai dhesa”
(sebutan masyarakat setempat). Batang ubi berwarna putih kemerahan dan sedikit
lebih kecil dengan ubi putih. Tinggi 2 meter sampai 3 meter. Tangkai kecil
berwarna hijau dan daunnya berwarna hijau berjari-jari. Kulit umbi berwarna
cokelat kemerahan. Ubinya besar seperti pergelangan tangan orang dewasa, dengan
panjang berkisar 20cm sampai 40cm.Ubi ini ditaman secara stek miring juga tegak
lurus dengan jarak panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter karena umbinya lebih
panjang dari jenis ubi putih. “Uwi ai tuka mera” atau “uwi ai dhesa”
ini, biasa panen pada umur 10 bulan. Jika lebih dari umur itu, maka rasa ubi
ini akan lebih enak. Berbeda dengan jenis ubi putih.Masyarakat Nuabosi biasa
panen pada umur 10 sampai 15 bulan karena umurnya cukup matang. Dalam sepohon,
ubi merah dapat menghasilkan 10 sampai 15 umbi. Karena umbinya kecil dan
panjang, maka jumlah yang dihasilkan lebih banyak. Umbinya berwarna putih dan
tidak berserat dari pangkal sampai ujung umbi. Rasanya lezat dan gurih jika
diolah dalam bentuk apapun.
Ketiga, Ubi jenis terigu. Jenis ubi ini banyak ditanam
oleh masyarakat Nuabosi. Ciri-ciriya, batang berwarna putih sedikit kecokelatan
dipangkal. Tinggi 2 sampai 3 meter. Tangkainya berwarna hijau sedikit lebih
putih dan daunya berwarna hijau berjari-jari. Kulit umbi berwarna kecokelatan
dan lebih tipis dibandingkan dengan kedua jenis ubi lain diatas.Umbi jenis ubi
terigu lebih panjang dari jenis ubi lain berkisar 30cm sampai 60cm. Dalam
sepohon menghasilkan 13 hingga 16 umbi. Ukuran umbi sebesar sama dengan ubi
jenis “Uwi ai tuka mera”, hanya lebih panjang. Umbi berwarna putih
bersih dan tidak berserat.Sistem penanaman ubi jenis terigu dengan sistem stek
miring juga tegak lurus ke langit dengan ukuran batang stek 20cm sampai 30cm.
Jaraknya penanaman 1,5×1,5 (panjang 1,5m dan lebar 1,5m).Ubi terigu biasa panen
umur 1 sampai 2 tahun. Lebih tepatnya panen umur 2 tahun, karena umbinya lebih
besar, panjang dan lebih enak rasanya.Harga ubi Nuabosi bervariasia tergantung
besar kecilnya ubi. Jika kita beli di Pasar Mbongawani tentu harganya lebih
mahal. Ubi per gandeng antara dengan jumlah 8, 12 dan 15 batang bergantung
dengan besar kecilnya ubi. Di pasar Mbongawani pergandeng senilai Rp.20.000
hingga Rp. 50.000.Harga di petani Nuabosi per gandeng Rp. 10.000 hingga Rp.
30.000. Harga per karung 20kg Rp.150.000 hingga , 50kg Rp. 250.000 dan 100kg
Rp.500,000.(*).
Rumah Pengasingan Bung Karno merupakan tempat Soekarno menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik. Soekarno diasingkan ke Ende, Flores pada 14 Januari 1934. Ia diasingkan di sana selama empat tahun (1934-1938). Setelah itu, ia diasingkan ke Bengkulu.
Selama di Ende, dan keluarganya menempati sebuah rumah di tengah perumahanan penduduk biasa. Rumah itu milik Abdullah Ambuwaru. Rumah sederhana itu tidak bernomor dan berada di tengah rumah penduduk yang beratap ilalang.Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada tahun 1951. Ia bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar rumah tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan yang kedua (1954), Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Bung Karno pada tanggal 16 Mei 1954.
sumber :klikdisini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar